Pengertian Sosiologi Agama

  • 3 min read
  • Nov 16, 2020

SpecialDays.id – Halo sahabat spesial pada kali ini kita akan membahas tentang sosiologi agama dalam kacamata dunia islam, yuk! langsung saja kita bahas.

1.Pengertian Agama

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antar manusia dan manusia dengan lingkungannya.

Aspek agama yang paling mendasar adalah sistem kepercayaan terhadap Tuhan.[1] Keyakinan bahwa Tuhan Maha Kuasa atas segala yang terjadi di alam semesta, terlebih segala kejadian yang dialaminya, akan mendorong yang bersangkutan selalu menggantungkan hidupnya terhadap Tuhan. Bentuk komunikasi terhadap Tuhan adalah ibadah.[2] Tujuan dari agama ialah agar manusia dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.[3]

2.Pengertian Ideologi

Ideologi berasal dari bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari dua kata, yaitu edios yang berarti gagasan atau konsep, dan logos yang berarti ilmu. Secara umum, ideologi adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti luas, ideologi adalah pedoman normatif yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar cita-cita, nilai dasar, dan keyakinan yang dijunjung tinggi.[1]

Ideologi mengatur bagaimana kita hidup berdampingan dengan orang lain dengan nilai tertentu yang kita yakini, ideologi juga mengatur masyarakat demi kesejahteraan bersama.[2]

3.Hubungan Agama dan Ideologi Negara

Pembahasan Marx dan Engels atas agama terpilah ke dalam dua aspek, yaitu : agama sebagai sistem ideologi dan agama sebagai lembaga sosial. Sebagai ideologi, agama berfungsi sebagai seperangkat sanksi moral, khayal, penghibur atas kondisi ketidakadilan, penyelubung kenyataan dan pembenar ketidaksetaraan.[3]

Baca Juga :  Tokoh Pendidikan : Inilah Biografi Ki Hajar Dewantara

Ideologi tanpa agama merupakan kekacauan. Dalam agama ada sistem dosa dan pahala, surga dan neraka, serta halal-haram. Dan bagi siapa saja yang melanggar perintah agama, maka ia akan mendapatkan dosa. Hal ini dapat dianalogikan dengan negara. Setiap negara memiliki ideologi dan dasar negara yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Dan bagi siapa saja yang melanggar, maka akan dikenakan sanksi.[4]

Ideologi-ideologi yang ada di dunia yang digunakan sebagai dasar negara :

a. Ideologi Materialisme

Ideologi materialisme (al maaddiyah) menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Tidak ada Tuhan, tidak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Materilah asal-usul segala sesuatu. Materi merupakan dasar eksistensi segala macam pemikiran. Atas dasar paham materialisme itu, dengan sendirinya agama tidak mempunyai tempat dalam sosialisme.

Sebab agama berpangkal pada pangkuan eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis-materialis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan.[1]

b. Ideologi Kapitalisme

Ideologi kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashluddin ‘anil hayah) atau sekularisme. Paham ini tidak menafikan agama secara mutlak, namun hanya membatasi perannya dalam mengatur kehidupan. Agama hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, sedangkan hubungan antara manusia diatur oleh manusia sendiri.[2]

c. Aqidah Islamiyah

Aqidah Islamiyah adalah rukun iman yang 6. Aqidah ini merupakan dasar ideologi Islam yang darinya terlahir bernagai pemikiran dan hukum Islam yang mengatur kehidupan manusia. Aqidah Islamiyah menetapkan bahwa keimanan harus terwujud dalam keterikatan terhadap hukum syara’, yang cakupannya adalah segala aspek kehidupan.[3]

Baca Juga :  35 Kata Motivasi Kerja dari Banyak Pengusaha Sukses

4. Agama dan Sistem Pemerintahan

a. Pengertian system pemerintahan

Sistem Pemerintahan adalah suatu tatanan utuh yang terdiri atas berbagai komponen yang bekerja saling bergantung dan mempengaruhi dalam mencapai tujuan dan fungsi pemerintahan.

Secara luas system pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat, menjaga tingkah laku kaum mayoritas maupun minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga kekuatan politik, pertahanan, ekonomi, keamanan sehingga menjadi system pemerintahan yang kontinu dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bias ikut turut andil dalam pembangunan system pemerintahan tersebut.

Secarasempit, Sistem Pemerintahan hanya sebagai sarana kelompok untuk menjalankan roda pemerintahan guna menjaga kestabilan Negara dalam waktu relative lama dan mencegah adanya perilaku reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu sendiri.

b. Hubungan agama dengan system pemerintahan

Menurut pendapat para ahli dari dunia barat, melihat hubungan antara agama dan  Negara dapat diklasifikasikan kedalam tiga bentuk, yakni intregated (penyatuan antara agama dan negara), intersectional (persinggungan antara agama dan negara), dan sekularistik (pemisahan antara agama dan negara).[1]

Bentuk hubungan antara Negara dan agama di Negara-negara barat dianggap sudah selesai dengan sekularismenya atau pemisahan antara agama dan Negara. Dalam polah ubungan ini, agama tidak bias lagi memperalat Negara untuk melakukan kedzaliman atas namaTuhan; demikian pula Negara tidak lagi bias memperalat agama untuk kepentingan penguasa.

Bentuk hubungan antara Negara dan agama di Negara-negara barat dianggap sudah selesai dengan sekularismenya atau pemisahan antara agama dan Negara. Dalam polah ubungan ini, agama tidak bias lagi memperalat Negara untuk melakukan kedzaliman atas namaTuhan; demikian pula Negara tidak lagi bias memperalat agama untuk kepentingan penguasa. Ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan Negara ini diilhami oleh hubungan yang agak canggung antara islam.

Baca Juga :  60 Soal Tugas PAI SD Kelas 5 Semester 2 K-13

Menurut Dede Rosyada berpendapat bahwasanya sebagai agama (din) dan Negara (dulah), agama dan Negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan dua lembaga politik dan sekaligus lembaga agama.

 

[1]Muhammad NandangSunandar, journal of Islamic Low, Vol.1, No.2, 1017, 90

[1] Ibid., 110.

[2] Ibid., 110-111.

[3] Ibid., 111.

[1] M. Fahim Tharaba, Sosiologi Agama : Konsep, Metode Riset, dan Konflik Sosial (Malang: Madani, 2016), 108.

[2] Roni Dwi Hartono, Mengkaji Relasi Agama dan Ideologi, Dinika, Vol. 1 no. 1, 2016, 84.

[3] M. Fahim Tharaba, Sosiologi Agama : Konsep, Metode Riset, dan Konflik Sosial (Malang: Madani, 2016), 109.

[4] Ibid., 111.

[1] M. Fahim Tharaba, Sosiologi Agama : Konsep, Metode Riset, dan Konflik Sosial (Malang: Madani, 2016), 107.

[2] M. Fahim Tharaba, Sosiologi Agama : Konsep, Metode Riset, dan Konflik Sosial (Malang: Madani, 2016), 107-108.

[3] Roni Dwi Hartono, Mengkaji Relasi Agama dan Ideologi, Dinika, Vol. 1 no. 1, 2016, 85.