e- journal: Gender dalam perspektif Bimbingan dan Konseling Islam

  • 14 min read
  • Nov 18, 2020

Specialdays.id – Halo sobat spesial kali ini kita akan membahas tentang Gender. Tahukah kamu apa itu gender? Lalu, bagaimana pandangan Gender dalam perspektif Bimbingan dan Konseling Islam? Yuk simak saja pemahaman tentang gender dalam pandamgan  islam berdasarkan Jurnal ini!

GENDER PRESPEKTIF BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DI ERA MILENIAL

Ayu Puspita Sari, Nabela AuliaNuzlul Quryandina
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Jember

E-mail: fitaayumi17@gmail.com, nabelaaulia99@gmail.com

ABSTRACT
The stereotype that women are considered second class is still happening today. Women are considered only able to macak (dress up), cook (cook), manak (give birth), even though in reality a woman is able to develop herself like a man through their functions and roles. History has proven that women contribute a lot in the progress of civilization. Islam and guidance and counseling are of the view that women also have the potential and freedom to develop themselves optimally. In the millennial era women are required to take part in social life, therefore women are expected to be able to carry out their mission in advancing themselves and having a mission in developing their society. This makes men and women in their respective professions and proportions.
Keyword: women, guidance and counseling, Islamic perspective, milenal era

ABSTRAK
Stereotip bahwasannya perempuan dianggap kelas dua masih terjadi hingga kini. Perempuan dianggap hanya mampu macak (berdandan), masak (memasak), manak (melahirkan), padahal sejatinya seorang perempuan mampu mengembangkan dirinya layaknya seorang laki-laki melalui fungsi dan perannya. Sejarah telah membuktikan bahwa perempuan banyak berkontribusi dalam kemajuan peradaban.

Islam serta bimbigan dan konseling berpandangan bahwa perempuan juga memiliki potensi serta kebebasan untuk mengembangkan dirinya secara optimal.

Di era milenial perempuan diharuskan ikut andil dalam kehidupan sosial, maka dari itu perempuan diharapkan mampu melaksanakan misinya dalam memajukan diri sendiri dan memiliki misi dalam mengembangkan masyarakatnya.

Hal yang demikian ini menjadikan laki-laki dan perempuan berada pada profesi dan proporsi masing-masing.
Kata kunci: perempuan, bimbngan dan konseling, perspektif Islam, era mileia

PENDAHULUAN
Perempuan bukan lagi menjadi pembahasan asing, bahkan bukan lagi menjadi kekaburan kabar bahwasanya perempuan pernah dianggap tidak mampu atau distereotipkan berada di bawah laki-laki.

Hal ini jelas beretentangan dengan pedapat bimbingan dan konseling yang beranggapan bahwa setiap individu baik laki-laki maupun perempuan memilki potensi serta kebebasan untuk mengembangkan dirinya.
Islampun berpendapat senada, bahwasanya antara laki-laki dan perempuan sama-sama berpeluang untuk mengembangkan dirinya. Sebelum Islam dikenal dan berkembang seperti saat ini, pada zaman itu telah berkembang budaya jahiliyah bangsa Arab.

Kejahiliyahan bangsa Arab salah satunya adalah penindasan terhadap kaum perempuan. Bagi Jahiliyah Arab, perempuan tidak dianggap sebagai manusia, mereka memperlakukan perempuan layaknya binatang bahkan lebih biadab dari itu.

Sejarah telah menggoreskan bahwa perempuan pada masa tersebut dianggap aib sehingga muncullah budaya mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Bukan hanya bayi perempuan yang tidak mengerti kehidupan, perempuan dewasa pun ikut didiskriminasi dengan cara digauli semaunya tanpa ada ikatan, diperlakukan layaknya budak, dan harus tunduk pada kedzoliman kaum laki-laki.

Al Quran menurut Asghar secara nomatif menegaskan konsep kesetaraan status antara laki-laki dan perempuan. Konsep kesetaraan itu mengisyaratkan dua hal: Pertama, dalam pengertiannya yang umum berarti penerimaan martabat keduajenis kelamin dalam ukuran yang setara.

Kedua, orang harus mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak-hak yang setara dalam bidang sosial, ekonomi dan politik; keduanya harus memiliki hak yang setara untuk mengadakan kontrak perkawinan atau memutuskannya; keduanya harus memiliki hak untuk memiliki atau mengatur harta miliknya tanpa campur tangan yang lain; keduanya harus bebas memilih profesi atau cara hidup; keduanya harus setara dalam tanggung jawab sebagaimana dalam hal kebebasan.
Di era milenial ini setiap orang diharapkan mampu memahami gender sehingga segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan tidak ada lagi.

Dengan adanya penyetaraan gender, seseorang yang dianggap kompeten dalam hal agama juga diharapkan mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial tanpa batasan ruang dan waktu namun tetap berada di koridor syari’at.

PEMBAHASAN

Gender Perspektif Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan Konseling berasal dari dua kata, yakni bimbingan dan konseling.

Bimbingan sendiri merupakan terjemahan dari kata “guidence” yang memiliki kata dasar dari “guide” denga beberaa arti:  a) menjukkan jalan, b) memimpin, c) memberi petunjuk, d) mengatur, e) mengarahkan dan f) memberi nasihat.
Secara etimologis bimbingan memiliki arti bantuan atau tuntunan atau pertolngan, tetapi tidak semua bantuan dapat disebut bimbingan.

Sedangkan bimbingan memiliki konteks psiologis. Syarat-syarat yang bermakna bantuan yaitu: a) Bantuan dierikan hanya untuk tujuan yang jelas, b) harus terencana, c) melalui tahapan tertentu, d) menggunakan pendekatan tertentu, e) dilakukan oleh orang profesional f) evaluasi dari hasil pembrian bantuan.

Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan, berencana, disengaja, terarah, sistematis pada suatu tujuan. Bimbingan tidak memaksakan dalam pengambilan keputusan melainkan hanya membantu mengarahkan mencari alternatif solusi sehingga dapat mengambil keputusan sesuai potensinya secara optimal.

Melalui bimbingan seseorang dapat menerima, mengarahkan, dan mewujudkan dirinya sesuai dengan kapasitas potensi yang dimiliki.
Konseling merupakan salah satu teknik dan inti dalam bimbingan.

Bahkan ada yang menyatakan bahwa konseling adala jantung dari bimbingan. Dahulu konseling sering disebut penyuluhan, tetapi karena menimbulkan banyak kerancuan disebabkan tidak dilakukan seperti penyuluhan petanian atau hukum.

Maka istilah penyuluhan diganti dengan kata konseling. Konseling dapat diartikan sebagai pertemuan tatap muka antara konselor dan konseli yang berusaha memecakan masalah dengan mempertmbangkan bersama sehingga konseli dapat memecahan masalah secara mandiri.

Tujuan yang ingin dicapai dalam proses konseling yakni: a) mengenal dan memahami dirnya sendiri, b) mengarhkan dirinya sesuai potensi ang dimiliki agar berkembang secara optimal, c) mandiri dalam menyelesaikan masalah, d) menerima keberadaan dirinya, e) adaptif, f) mencapai taraf aktualisasi diri, dan g) terhindar dari malajustment.

Bimbingan dan konseling sendiri dapat diartikan sebagai dua kegiatan kerja yang saling melengkapi satu sama lain. Biang gerak bimbingan dan konseling adalah lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang lebih luas, misalnya dalam bidang industri, perusahaan, ketentaraan, biro sosial dan lain sebagainya.

Masing-masing gerak tersebut membawa sifat yang berlainan mengenai jenis atau macam bimbingan konseling. Misalnya dalam sekoah titkberatnya berhungunga dengan pendidikan dan pengajaran, sedangkan dalam sosial berhungan dengan pribadi dan jabatan.

Hakikat manusia menurut Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph dapat dideskipsikan sebagai berikut :

Manusia sebagai makhluk rasional yang mampu berfikir dan meggunakan ilmu untuk mengembangkan dirinya.

Manusia dapat mengatasi masalahnya ketika ia dapat memanfatkan kemapuanya secara optimal

Manusia berusaha mengembangkan dirinya utuk menjadi dirinya sendiri salah satuya melalui pendidikan

Manusia terlahir dengan memiliki potensi yang berbeda, baik itu potensi yang baik maupun yang buruk dalam diriya. Bagaimana ia dapat mengembankan potensi baik dan mengontrol potensi buruk dalam dirinya.

Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam
Manusia akan menjalani tugas kehidupan dalam diriya dengan pemenuhan tugas yang ia jalani

Baca Juga :  Bank Soal PAI SD Kelas 6 Semester 2 KTSP

Manusia itu unik yang berarti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.

Manusia itu bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri.

Kebebasan ini yan menjadi lanasan bagaimana ia dalam memilih jalan hidupnya Hakikat positif dimiliki oleh manusia, dalam hal ini manusia setiap saat dapat memberikan peran terbaik yang dimiliki oleh dirinya.

Pemahaman perihal hakikat manusia tersebut menjadikan upaya bimbingan dan konseling yang diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri.

Seorang konselor dalam berinteraksi dengan konselinya harus mampu melihat dan memperlakukan konselinya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensi.

Setiap manusia memiliki potensinya masing-masing, baik laki-laki maupun perempuan. Bimbingan Konseling memandang bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, sehingga keduanya dapat mengembangkan dirinya melalui fungsui danperan masing-masing.

Gender dalam Perspektif Islam

Gender pada mulanya adalah suatu klasifikasi gramatikal untuk benda-benda menurut jenis kelaminnya terutama dalam bahasa-bahasa Eropa.

Kemudian Ivan Illich menggunakannya untuk membedakan segala sesuatu di dalam masyarakat vernacular seperti bahasa, tingkah laku, pikiran, makanan, ruang dan waktu, harta milik, tabu, alat-alat reproduksi, dan lain sebagainya.

Beberapa orang masih belum dapat membedakan antara seks (jenis kelamin) dan gender, dimana seks berkaitan dengan ciri-ciri biologis dan fisik tertentu, termasuk kromosom dan genitalia.

Sementara identitas gender lebih banyak dibentuk oleh persepsi sosial dan budaya tentang stereotip perempuan dan laki-laki dalam sebuah masyarakat.

Gender ditentukan secara sosial, maka ideologi dan wawasan suatu masyarakat atau suatu bangsa turut serta membangun gagasan tentang identitas ini.

Simone de Beauoir, Christ Weedon, dan Barbara Lloyd sebagai para feminis dalam teori nature dan nature sepakat bahwa seks atau jenis kelamin dan perangkat reproduksi merupakan organ biologis yang bersifat natural.

Mereka sepakat mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki dalam dataran ini berbeda. Akan tetapi gender adalah identitas kultural yang disosialisasikan sedemikian rupa sehinga seoah-olah merupakan sesuatu yang natural dengan ungkapan yang sering dilontarkan sebagai kodrat.

Dua jenis kelamin yang natural sering disebut dengan “perempuan” dan “laki-laki”. Sedangkan gender mengambil bentuk “feminim” dan “maskulin” sebagai identitas.

Permasalahan gender bukan lagi menjadi hal baru, dimana para perempuan sering dianggap kelas dua atau lebih rendah dari pada laki-laki. Hal tersebut bukan sekedar stigma namun juga telah menjadi praktik di beberapa daerah bahkan sejak zaman sebelum masehi.

Zaman jahiliah Mekah misalnya, dimana pada masa itu perempuan benar-benar terhina dan dianggap sebagai aib sehingga muncul budaya membunuh bayi perempuan secara hidup-hidup.

Praktik membunuh bayi perempuan hidup-hidup saat ini memang telah tiada, namun merendahkan dan mengangggap perempuan sebagai kelas kedua masih tetap berjalan.

Zaman milenial dengan segala kecanggihan dan pemikiran yang modern saat ini pun ternyata masih ada golongan konservatif yang menganggap perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak dan melayan suami, tidak boleh mempunyai aktivitas diluar rumah karena hal tesebut tugas kaum laki-laki saja.

Padahal sejak 14 abad yang lampau, al Quran telah menghapuskan diskriminasi antara laki-laki dan peremuan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kalaupun ada perbedaan, maka itu adalah akibat fungsi dan tugas-tugas utama yang dibebankan agama kepada masing-masing jenis kelamin melalui ajarannya dalam al Quran dan as Sunnah.

Sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan atas yang lain, melainkan mereka saling melengkapi dan bahu membahu.
Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW., serta berpedoman pada kitab suci al Quran yang diturunkan ke dunia sebagai wahyu dari Allah SWT.

Seperti telah diketahui, al Quran sebagai pedoman dan sumber hukum umat Islam ini telah mengatur segala kehidupan di muka bumi ini, termasuk masalah gender.

Melalui persektif Islam, akan penulis bahas perbedaan tentang kedudukan perempuan dengan laki-laki agar tidak muncul kesalahpahaman, minimal dapat mengurangi dekriminasi terhadap perempuan, sebagai berikut:
Dari segi pengabdian: Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam pengabdian. Perbedaan yang dijadikan ukuran untuk memuliakan atau merendahkan derajat mereka hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Al Quran Surat Al Hujurat: 13 menyebutkan:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Sesungguhnya yang termulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (Q.S Al hujurat : 13)

Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak masuk surga, sama-sama dipebolehkan turut berpartisipasi dan berlomba-lomba melakukan kebajikan, mengabdi kepada masyarakat, negara, dan agama.

Dasar persamaan ini ditegaskan dalam al Quran, surat An Nahl: 97,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S An Nahl :97)

Dari segi status kejadian: al Quran menerangkan bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan Allah dalam derajat yang sama, sebagaimana firman Allah dalam Quran surat An Nisa:1,
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (Q.S An Nisaa :1)

Ayat tersebut merupakan penegasan bahwa zat untuk penciptaan manusia tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Al Quran tidak pernah menyebutkan bahwa perempuan pertama (Hawa) mempunyai martabat lebih rendah dari laki-laki (Adam).

Dari segi mendapat godaan: Al Quran menyebutkan bahwa godaan dan rayuan iblis berlaku bagi laki-laki dan perempuan, seperti terjadi pada Adam dan Hawa yang dideportasikan dari surga karena godaan iblis terhadap keduanya tanpa perbedaan, seperti pada Quran surat Al A’raf: 20,
“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya…”.(Q.S Al A’raf : 20)

Pada ayat tersebut disebutkan dalam bentuk mutsannah bukan mufrad, sehingga salah apabila perempuan dianggap sebagai sumber segala masalah, padalah laki-laki pun sam-sama dirayu oleh setan.

Dari segi kemanusiaan: Allah sangat menjunjung tinggi kemanusiaan terhadap perempuan sekalipun, dimana Allah menolak budaya Arab jahiliyah yang mengubur bayi perempuan hidup-hidup, hal ini dapat dilihat dalam Quran surat An Nahl: 58-58
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (Q.S An nahl : 58)

Baca Juga :  Latihan Soal Agama Islam kelas 3 SD Semester 2 (K-13)

Dari segi pemilikan dan pengurusan harta: Al Quran menghapuskan semua tradisi yang diberlakukan atas perempuan berupa larangan atau batasan hak untuk membelanjakan harta yang mereka miliki dan kesewenangan-wenangan suami terhadap istri.

sebagaimana disebutkan dalam Quran surat An Nisa: 32,
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para perempuan (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S An nisaa : 32)

Ayat ini menyisaratkan bahwa perempuan sama dengan laki-laki dalam hak-hak untuk memiliki, berdagang, dan mengembangkan hartanya, walaupun perempuan itu terikat perkawinan, bahkan perempuan berhak mempertahankan kekayaan yang ada di tangan mereka melalui jalur pendidikan dan upaya lain yang diisyaratkan.

Dari segi warisan: hak waris bagi perempuan dan laki-laki telah dijelaskan dalam Quran surat An Nisa:7,
“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (Q.S An Nisaa : 7)

Ayat tersebut memberikan perlindungan kepada perempuan dalam hak waris. Mereka diberi hak seperti kaum laki-laki dalam mewarisi harta peninggalan si mayit. Sebagian orang menyangsikan bagian anak laki-laki yang dua kali bagian anak perempuan.

Padahal hal demikian dikarenakan kewajiban laki-laki lebih berat daripada anak perempuan, yaitu membayar dan memberi mahar, serta memberi nafkah kepada anak dan istrinya.

Persamaan hukum tentang perceraian sebagaimana dalam surat al Maidah: 38, perzinahan dalam surat An Nur: 2, olok-olok dalam surat Al Hujurat: 11, pergaulan suami dan istri dalam suarat Al Baqarah:187, tentang menahan pandangan dalam surat An Nur: 30, dan lain-lain.

Demikianlah ayat-ayat Al Quran yang menyebutkan persamaan antara laki-laki dan perempuan. Islam telah menempatkan perempuan pada posisi yang sempurna sesuai dengan prinsip kesetaraan dan keadilan.

Pertama, perempuan adalah manusia yang dilengkapi dengan kemuliaan. Allah SWT telah berfirman “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…” (Q.S al Isra:70) Anak-anak Adam itu terdiri atas laki-laki dan perempuan.

Kedua, perempuan adalah manusia yang mempunyai tanggung jawab yang hampir sama dengan kaum laki-laki dalam tindak tanduk dan perkataannya di dunia, kemudian ia akan diberi balasan di akhirat kelak.

dalam hal ini, tanggung jawab perempuan tidak mungkin digantikan oleh ayah, saudara laki-laki, atau suaminya. Rosulullah SAW., bersabda:
“Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, aku tidak berdaya menolongmu di sisi Allah sedikit pun. Wahai Shofiyyah, bibi Rosulullah SAW., aku tidak berdaya menolongmu di sisi Allah sedikit pun. Wahai Fatimah, putri Muhammad, aku tidak berdaya menolongmu di sisi Allah sedikit pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, perempuan adalah manusia yang mempunyai kepribadian tersendiri, bebas memilih, disamping juga bebas menentukan teman hidupnya.

Rosulullah SAW., bersabda:
“Seorang janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pertimbangannya (musyawarah) dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai persetujuannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, perempuan adalah seorang manusia yang sempurna, pendamping kaum laki-laki dalam kehidupan berumah tangga. Perempuan pun bukan barang mainan untuk memuaskan kebutuhan seksual.

Ketika perempuan dijadikan pakaian bagi kaum laki-laki, maka begitu pula sebaliknya, laki-laki adalah pakaian bagi perempuan.

Sesuai Firman Allah dalam surat Al Baqarah: 187, “… mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka …”.(Q.S Al Baqarah : 187 )

Dalam masalah keluarga, keduanya memiliki tanggung jawab, Allah menyiapkan laki-laki untuk mencari kebutuhan hidup dan menjadi pemimpin.

Sedangkan Allah menyiapkan perempuan untuk memelihara anak-anak dan mengatur urusan rumah tangga, sesuai sabda Nabi Muhammad SAW: “… dan perempuan menjadi pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anaknya, maka dia harus bertanggung jawab terhadap mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima, perempuan adalah manusia yang cerdas. Dia mempunyai kegiatan-kegiatan sosial dan politik yang baik dan bermanfaat. Allah SWT., berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar …” (Q.S at taubah:71)

Keenam, perempuan adalah pribadi yang normal, bukan seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang. Kalaupun sifat-sifat polos dan lugu sehingga mudah terperdaya oleh kata-kata manis, jahat, atau licik, serta tidak ada yang dia kuasai selain kepintaran memperdaya orang, kaum laki-laki pun mempunyai beberapa kelemahan dan kejelekan seperti itu.

Demikianlah dalam Islam, tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki sehingga perempuan menjadi kelas kedua. Islam telah mengatur sedemikian rupa sehingga perempuan dan laki-laki berada pada profesi dan proporsi masing-masing.

Manusia dalam perspektif Islam, semua yang diciptakan Allah swt berdasarkan kodratnya masing-masing. Para pemikir Islam mengartikan qadar di dalam Al-Quran dengan ukuran-ukuran, sifat-sifat yang ditetapkan Allah swt bagi segala sesuatu, dan itu dinamakan kodrat.

Laki-laki dan perempuan sebagai individu dan jenis kelamin memiliki kodratnya masing-masing. Syeikh Mahmud Syaltut mengatakan bahwa tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan berbeda, namun dapat dipastikan bahwa Allah swt lebih menganugerahkan potensi dan kemampuan kepada perempuan sebagaimana telah menganugerahkannya kepada laki-laki.

Peran Perempuan dalam Kehidupan Sosial di Era Milenial

Kegiatan sosial bagi perempuan meliputi setiap kegiatan yang dilaksanakan secara bersama dan terorganisasi dengan tujuan mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat dalam bidang kehidupan sosial, baik yang bersifat kebudayaan, pendidikan, kesehatan, olahraga, hiburan, seni atau pun berupa pemberian bantuan material kepada fakir miskin.

Di antara tujuan kegiatan sosial adalah membuka pintu kegiatan-kegiatan yang positif sehingga terbuka peluang bagi muslim dan muslimah, bagimanapun kemampuan dan apa pun jenis bakatnya untuk berkorban dan memberikan sumbangsihnya.

Jika lelaki di zaman Nabi SAW., seperti Abu Mas’ud al Anshari diperintah supaya bersedekah, lalu dia langsung pergi ke pasar dan bekerja sebagai buruh atau kuli angkut hingga ia memperoleh upah besar dua mud makanan pokok (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka perempuan seperti Zainab binti Jahasy telah disebutkan sebelumnya bahwa dia bekerja dengan tangan dan tenaganya sendiri agar dia dapat bersedekah.

Jika kegiatan profesi pada pokoknya adalah tugas khusus kaum laki-laki dan sebaliknya mengurus rumah tangga adalah tugas khusus kaum perempuan, maka kegiatan sosial adalah tugas bersama laki-laki dan perempuan.

Bahkan porsinya bisa lebih untuk kaum perempuan karena pertimbangan-pertimbangan berikut :

Potensi perasaan, kehalusan budi, dan rasa sayang kaum perempuan;

Kadang-kadang peempuan memilih bekerja dalam bidang kegiatan sosial karena melihat profesi ini lebih cocok dengan kondisinya;

Kegiatan sosial adalah medan luas yang terbentang di hadapan ibu-ibu rumah tangga untuk berinteraksi dengan masyarakat dan untuk menumbuhkan sikap kepedulian sosial mereka.

Baca Juga :  Soal Harian: Pendidikan Agama Islam kelas 3 SD (K-13)

Di samping menunaikan tugas terhadap masyararakat pada satu sisi, dan pada sisi lain berguna untuk memanfaatkan waktu luang setelah mengerjaka urusan rumah tangga melalui kegiatan yang berguna untuk menyenangkan, atau kegiatan ang berguna sekaligus menyenangkan;

Keahlian perempuan lebih besar dalam soal memberikan pelayanan kepada kaum perempuan, anak-anak, dan kalangan lansia.
Laki-laki dan perempuan sejatinya tidak lengkap apabila mereka hidup sendiri-sendiri saja.

Mereka berdua memiliki sifat-sifat yang sama namun memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Dengan melaksanakan fungsi khusus ini dan saling menghormati hak masing-masing, mereka akan menemukan keberhasilan.

Perempuan yang tidak jarang dianggap kelas dua mempunyai peran dan fungsi khusus yang tidak mungkin laki-laki memperoleh keberhasilan tanpa sosok perempuan dibelakangnya.

Perempuan diciptakan di bumi bukan tanpa maksud apa pun, mereka memiliki misi dan fungsi dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan sosial era milenial, perempuan sebagai perempuan memiliki andil dan pengaruh yang cukup besar.
Demi mewujudkan peran perempuan dalam kehidupan sosial, maka perempuan harus terlebih dahulu melaksanakan misinya dalam memajukan diri sendiri.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah perempuan harus menyadari kemampuan-kemampuan dirinya. Dengan mengenali kelemahan, kekuatan, sifat-sifat, bakat-bakat serta pengarahan kemampuan-kemampuan ini, perempuan akan menemukan perannya yang sejati dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Bila perempuan dapat mengenal kemampuannya yang berarti mengenal terhadap kekuatan fisiknya dan hal-hal yang berkenaan dengan kualitas kebersamaan antara laki-laki dan perempuan, ia dapat memilih cara untuk memperbaiki dirinya. Cara-cara itu adalah sebagai berikut:
Perempuan harus mengenal akan sifat kebudayaan masyarakat terutama tempat ia berada. Ia harus tahu reaksi masyarakat terhadap dirinya sehingga ia dapat mengambil satu sikap yang benar.

Perempuan harus mengenal prinsip-prinsip agama sehingga mula-mula ia akan menyadari posisinya sebagai penerus utama budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia akan menemukan cita-cita apa yang akan dikejarnya dan bagaimana cara mendidik anak-anaknya serta pola ideologi apa yang harus ditanamkan kepada mereka.

Perempuan harus mengenal pemikiran serta pandangan-pandangan budaya yang berlaku dalam masyarakat sehingga ia dapat luas wawasan, luwes pergaulan dan dapat mengambil langkah dalam memajukan pola-pola kehidupannya.

Perempuan harus mengenali teladan para tokoh agamanya. Pengenalan ini dapat membantu perempuan untuk mengalahkan semua rintangan, kekurangan-kekurangan dan memanfaatkan potensinya yang tersembunyi. Dengan pengenalan ini maka perempuan akan sadar bahwa agama tidak membatasinya selama tidak bertentangan dengan syariat dan menjadi bukti konkret bahwa perempuan yang patuh pada agama juga mampu melakukan perubahan besar bagi dirinya lebih-lebih bagi orang lain.

Selain memiliki misi dalam memajukan dirinya, perempuan juga memiliki misi dalam mengembangkan masyarakatnya. Perempuan adalah manusia yang multifungsi, namun demikian tidak menghalanginya dalam melaksankan fungsi-fungsi tersebut.

Dibalik sifatnya yang lemah lembut ternyata tersimpan kekuatan yang luar biasa dalam diri perempuan sebagai seorang perempuan. Ia mampu berperan dalam kehidupan sosial era milenial melalui fungsinya, baik fungsi sebagai istri, ibu ataupun anggota masyarakat.

Fungsi perempuan sebagai istri yaitu memantapkan kestabilan dalam keluarga yang merupakan satuan paling mendasar dalam masyarakat; memantapkan keseimbangan ekonomi dalam keluarga, sehingga akan meningkatkan keseimbangan ekonomi masyarakat luas; dan menguatkan kebudayaan, ekonomi dan nilai-nilai tradisional yang benar, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga akan meningkatkan kestabilan kebudayaan dalam masyarakat dan akan melindunginya dari propaganda kebudayaan asing.

Kehebatan seorang perempuan juga dapat dibuktikan melalui fungsinya sebagai ibu yaitu meletakkan landasan budaya keluarga, membesarkan anak-anak yang merupakan pembangun masa depan dan meneruskan nilai-nilai ideologi kepada generasi berikutnya serta menjelaskan nilai-nilai tersebut.

Di era mileal, seorang ibu dapat memanfaatkan segalaa teknologi demi menyokong tugas-tugasnya, misalnya memberikan game educative melalui smartphone pada anak, dan lain sebagainya. Selain itu, seorang perempuan juga mempunyai andil dalam masyarakat yang dapat ia lakukan dengan menjaga kestabilan pikiran dalam masyarakat karena kehadirannya yang bermanfaat dalam masyarakat.

Seorang perempuan bila tidak memegang teguh peraturan moral, ia akan menggoyahkan dasar-dasar kemasyarakatan dan akan mengakibatkan gangguan mental pada anggota-anggota masyarakatnya.

Di lain sisi, dengan memiliki keterampilan teknis dan ilmiah, serta pengetahuan dan pengalaman yang cukup, perempuan dapat membantu masyarakat untuk mencapai tingkat berkecukupan.

Kehadiran perempuan yang aktif dan teratur secara spiritual akan mempunyai dampak ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan. Dalam hal ini ia dapat membantu mengembangkan ekonomi dan juga menghalangi terjadinya penyelewengan moral serta gangguan mental.

Fungsi perempuan dalam masyarakat juga dapat dilakukan dengan menjelaskan landasan kebudayaan masyarakat melalui kehadirannya sebagai faktor pemicu bangkitnya telaah ilmiah kebudayaan dengan pemikiran yang sungguh-sungguh.

Perempuan dengan pembawaan alamiahnya mampu mendorong nilai-nilai sejati dan sebagai pelaksana prinsip-prinsip kebudayaan dalam masyarakat, dengan diilhami oleh agamanya, ia akan menjalankan fungsi yang sesungguhnya.

Perempuan mempunyai pengaruh besar sehingga ia akan menentukan kerangka budaya suatu masyarakat melalui sikap dan kehadirannya, baik di rumah maupun dalam masyarakat.

Pada era milenial sudah tentu andil perempuan sangat besar seperti yang telah diurai diatas, ia mampu melakukan perubahan melalaui fungsi dan perannya. Salah satu perempuan yang turut berkecimpung dalam kegiatan sosial dan politik, yaitu Ibu Khofifah Indar Parawansa, mantan menteri sosial yang saat ini sedang menjabat sebagai gubernur Jawa Timur.

Sebanarnya sejak zaman para nabi pun telah banyak dikisahkan peran dan kehebatan perempuan, misalnya Hajar yang merupakan istri Nabi Ibrahim mampu mendidik Ismail sehingga menjadi penerus kenabian di kemudian hari, zaman Nabi Sulaiman juga dikenal Balqis yang menjadi ratu, kisah Maryam yang telah terekam di dalam al Quran, Siti Khodijah sebagai saudagar kaya, dan banyak kisah inspiratif lainnya.

Sejatinya tidak ada kata tidak mampu bagi perempuan sebagai perempuan selama ia mau berusaha, ia mampu melakukan perubahan-perubahan melalui gerakan-gerakan yang ia lakukan baik melalui dirinya ataupun orang-orang disekitarnya.

Di era milenial ini, perempuan tidak perlu risau karena hak-haknya telah ditegakkan, dalam agama pun perempuan begitu dimuliakan dan sejarah telah membuktikan keberhasilan para perempuan dalam melaksanakan perannya di lingkungan sosial baik nasional maupun internasional yang telah dicapai di masa sebelumnya.

PENUTUP

Kesimpulan

Gender merupakan perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara sosial, yakni perbedaan yang bukan karena ketentuan Tuhan melainkan yang diciptakan oleh manusia melalui proses sosial dan kultural yang panjang.

Bimbingan dan konseling sebagai suatu proses pemberian bantuan dari seorang konselor kepada konseli berpendapat bahwa setiap individu itu memiliki keunikan serta potensi untuk mengembangkan dirinya.Islam sebagai agama yang diajarkan Rosulullah SAW., juga tidak membedakan apalagi merendahkan antara laki-laki dan perempuan.

Dari segi pengabdian, status kejadian, mendapat godaan, kemanusiaan, kepemilikan dan pengurusan harta, warisan, hukum, dan beberapa hal lainnya perempuan sama dengan laki-laki.

Era milenial ini, perempuan tidak perlu risau karena hak-haknya telah ditegakkan, dalam agama pun perempuan begitu dimuliakan dan sejarah telah membuktikan keberhasilan para perempuan dalam melaksanakan perannya di lingkungan sosial baik nasional maupun internasional yang telah dicapai di masa sebelumnya.

Baca Juga : Tips Jitu Masuk Hardvard University