Agama dan Realitas Sosial

  • 7 min read
  • Nov 16, 2020

Specialdays.id – Halo sahabat special pada hari ini kita akan membahas tentang Agama dan Realitas Sosial pada kali ini kita akan membahas beberapa poin yaitu Agama dan kemiskinan, Agama dan Spirit hidup juga tentang agama dan kekerasan yuk simak!.

A. Agama dan Kemiskinan

Sebagian kalangan menilai, bahwa agama hanya menjadi kekuatan moral  dan menjadi alat legitiminasi bagi kaum mustad’afin yang tidak mampu bangkit dari ketertindasannya. Persoalan kemiskinan, ketimpaan sosial budaya marginalisasi dan eksploitasi dianggap hal yag given.  Hal ini bersandar pada rasionalisasi bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi didunia adalah takdir.( Kalam: Jurnal study agam dan pemikiran islam.[1]

Selama ini,  elit keagamaan hanya sibuk dengan persoalan ritual transendental semata,  demi mencapai surganya tuhan. Nampaknya,  tidak adalagi kesempatan untuk masuk surga bagi masakin,  orang yang bodoh dan terbelakang, sebab kemiskinan yang menderanya membuat seseorang lalai akan perintah Tuhannya.

Padahal, Robert N Bellah Mengatakan bahwa agama adalah cara untuk memahami dunia, akan tetapi realitas yang terjadi,  justru elit agama lebih asyik bercengkrama dengan Tuhannya. Sehingga marjinalisi eksploitasi kemanusiaan oleh kelas sominasi tidak lagi dimaknai sebagai pengingkaran atas pesan pesan.[2]

Mestinya,  marginalisasi dan penindasan bagi kaum mustad’afin dijqdikan prioritas bagi elit keagamaan untuk melakukan perubahan dengan semangat iman. Jikq agama tidak mampu menjadi sumber perubahan,  maka agama hanyalah sesuatu yang formal tanpa memiliki makna yang signifikan  dalam kehidupan manusia,  bahkan lebih tragis secara lambat laun agama akan ditinggalkan oleh penganutnya.

Agama lahir bukan diruang hampa,  kelahiran agama sebagai respon dari realitas sosial yang menindas,  maka pradoks ketika orang yang mengaku taat beragama justru mengingkari pesan agama. Secara histiris agama hadir untuk memerangi ketidak adilan yang dilakukan oleh para penguasa. Seperti halnya agama yang dibawa Nabi Musa, tidak lain semata mata untuk menggugat dan memerangi ketidak adilan Fir’aun.[3]

Kemiskinan merupakan dampak yang paling nyata akibat globalisasi dibidang ekonomi. Dari perspektif ekonomi, globalisasi memaparkan angka angka yang memilikan. Laporan pembangunan manusia (HDR)  PBB tahun 1999 menyebutkan 840 juta orang kekuarangan gizi, termasuk didalamnya satu dari tempat anak didunia. Sementara, dipihak lain terjadi pemusatan ekonomi ditangan segelintir orang.

Bagaimana mungkin 3 orang terkaya didunia mendapatkan peneapatan yang lebih besar dar pada 48 negara miskin. Kekayaan bersih 200 orang terkaya didunia meningkat dari 440M dolar AS pada 1994 menjadi 1triliyun dolar AS pada 1998. Padahal, jika 4% saja harta mereka disumbangkan,  maka akan mengurangi kemiskinan yang sangat parah didunia.[4]

Lalu apa hubungannya agama dengan kemiskinan? agama dan realitas sosial sehatinya merupakan pedoman hudup bagi manusia.  Agar mencapai tujuan kesejahreraan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat nanti. Semua agama mengajarkan bahwa kemiskinan adalah musuh yang harus dilenyapkan karena iemiskinan dapat menjebak seseorang melakukan tindakan yang hina,  bahkan dalam islam dipahami bahwa kemiskinan dapat menjerumuskan dalam kekfiran. Oleh karena itu,  kemiskinan adalah musuh agama.[5]

B. Agama dan Spirit Hidup

Cita Konsepsi agama cita, ialah suatu perspektif pemahaman yang berangkat dari kaca mata optimis-positivistik terhadap agama agama dan realitas sosial. Pandangan ini melihat agama hadir untuk menyempurnakan tanggung jawab manusia dalam sejarah dan kehidupannya, sebagai sesuatu yang transendetal bagi kebutuhan umat manusia.

Perspektif optimis-positivistik selalu merasa bahwa masyarakat beragama selalu dalam naungan dan pelukan agama-agama, tumbuh menjadi manusia kreatif, kritis dan dinamis, mampu melaksanakan tugas peradaban dan kebudayaan untuk mengatur alam serta hubungan antar umat manusia.

Baca Juga :  100 Soal Harian Cerdas Cermat Agama Islam SD/MI Terbaru

Agama cita menekankan pada proses dialektika antara idealitas agama dengan realitas masyarakat beragama. Yang mana, agama cita berusaha untuk memadukan dan melakukan sistematisasi terhadap kerangka konseptual agama dan merefleksi realitas agama di masyarakat. Sehingga, akan tercipta paradigma futuristik keagamaan, yang akan menghantarkan kepada sinergisitas agama dan masyarakat beragama untuk senantiasa berdialog secara dinamis dan progresif.[1]

Dalam merumuskan apa yang disebut sebagai agama cita, terlebih dahulu mengimplikasikan kepada tahapan kedewasaan beragama. Artinya, masyarakat beragama harus terlebih dahulu memahami konsepsi agama dan kebutuhan mendasar beragama. Hal ini mengimplikasikan pada aspek kesadaran beragama. Yang pada akhirnya akan melahirkan satu bentuk komitmen dan prinsip bersama untuk mencapai keteraturan sosial.

Agama cita setidaknya dapat diukur melalui beberapa hal: pertama, sikap agama bertalian erat dengan solidaritas kemanusiaan. Kedua, sikap religius yang terangkum dalam sikap dan mempersatukan serta mensentralisir nilai-nilai keagamaan dalam satu sintesis pribadi yang khas. Ketiga, sikap religius yang mencerminkan pemikiran kritis, responsif dan kreatif dalam melihat realitas sosial.

Hal ini searah dengan tesis Peter L. Berger dalam Durkheim (1995) yang menggambarkan agama sebagai kekuatan “world maintaining” dan “world shaking”. Artinya, agama dalam kapasitas tertentu mampu mendorong sensitivitas manusia untuk melakukan perubahan sosial. Dengan catatan, pemahaman keagamaan masyarakat telah sampai kepada kedewasaan beragama. Yaitu, agama dipahami sebagai sistem transendental dan sistem sosial.[2]

Sementara untuk mencapai agama cita, terlebih dahulu perlu menghidupkan kembali etos profetik agama-agama besar dunia seperti maksud Islam, sebagai rahmat bagi alam dan seluruh umat manusia (rahmatan lil al-alamin). Konsep ini mengimplikasikan kepada pemeluk Islam dalam praktik keberagamaan yang dilakukan harus bisa memberi manfaat bagi semua orang, Muslim maupun nonMuslim.

Sehingga nilai-nilai universal Islam dapat diwujudkan tanpa harus membuat semua manusia memeluk dan mempraktikkan ajaran Islam secara legal-formal (Mulkhan, 2005, hal. 14). Konsep keberagamaan seperti inilah yang lebih relevan dalam konteks masyarakat modern (civil society) dengan kondisi zaman yang serba plural. Sudah tidak memungkinkan lagi untuk berseteru saling adu kebenaran, di saat krisis global sedang mengancam kemanusiaan.

Hanya dengan beragama secara inklusif dan humanis akan mampu menghadapi berbagai tantangan modernitas dan krisis global, di mana dalam era saat ini umat beragama dituntut untuk memiliki etos kooperatif sebagai modal dalam menghadapi pentas dunia global. Oleh karena itu, dalam memberikan sumbangsih terhadap krisis relevansi agama, diperlukan gerakan untuk menuju agama cita.[3]

Pertama, gerak langkah menuju agama dan realitas sosial cita harus terlebih dahulu memberanikan diri untuk saling terbuka dan secara bersama-sama mendeklarasikan nilai-nilai yang universal (Azizy dalam Wasim, dkk, 2005, hal. 3). Kebutuhan akan ruang-ruang diskusi, dialog, dan bertukar pikiran serta kemudian menghasilkan sebuah deklarasi yang universal atas dasar prinsip keagamaan. Proses diskusi dan dialog tidak diorientasikan kepada pencarian titik perbedaan, namun lebih diorientasikan kepada titik temu (common platform). Pada dimensi substansial, agama mengajarkan manusia untuk memiliki nilai-nilai universal. Beberapa hal dalam bentuk nilai-nilai universal yang diajarkan memiliki kesamaan satu sama lain, meskipun masih memiliki doktrin yang berbeda. Jadi, sekalipun doktrin teologis saling berbeda, setiap agama memiliki praktik dan nilai universal, yang dalam hal ini dapat disinergikan. Seperti ajaran tentang kebaikan, keadilan, egaliter, saling menghormati, saling menolong, cinta kasih, dan bentuk-bentuk ajaran sosialkemanusiaan lainnya.[4]

Kedua, penerapan prinsip etika aktivitas misi. Gerakan menuju agama cita harus didukung dengan prinsip-prinsip etik dalam menyebarkan ajaran agama kepada khalayak umum. Karena agama terkadang mempertontonkan perbedaan yang dapat menimbulkan konflik. Setiap agama memiliki ajaran missionaris (baca: dakwah), yaitu setiap organisasi agama masih merasa berkewajiban untuk meningkatkan jumlah pemeluknya dan mengembangkan agamanya dengan mengkonversikan orang-orang dari agama lain (Azizy dalam Wasim, dkk, 2005, hal. 2). Semangat missionaristik setiap agama, pada dasarnya merupakan iktikad luhur untuk berbagi anugerah samawi yang diyakini sebagai jalan keselamatan. Masingmasing penganut agama merasa mengemban misi luhur untuk menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Hal inilah yang terkadang menyebabkan kisruh dan polemik agama. Sehingga, harus diimbangi oleh penumbuhan sikap toleran kepada orang lain untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kalau tidak, misi suci tersebut hanya akan mencederai dan merendahkan martabat manusia. Karena, kenyataannya manusia tidak lahir dalam ruang hampa budaya dan agama. Berlangsungnya keberagamaan seseorang lebih banyak lahir dari sebuah proses pewarisan ultimate value dari generasi ke generasi (Efendi dalam Smith, 2001, hal. xii). Prinsip etik aktivitas misi menjadi jalan secara bersama dalam pencapaian harmonisasi umat beragama. Etika aktivitas misi harus memperhatikan sejumlah agenda dalam praktek kampanye dengan menghindarkan diri pada hidden campaign (agenda tersembunyi). Hal ini penting, artinya dalam menjaga kondusifitas arus mobilitas konversi agama. Sehingga dalam ruang ini dibutuhkan dialog yang intensif, karena dialog mengisyaratkan kehidupan yang rukun, termasuk kehidupan dalam mengamalkan ajaran agama.[5]

Baca Juga :  Soal Harian: Soal Agama Islam SD Kelas 2 Semester 2 K13

Ketiga, peningkatan pada skala prioritas pembangunan komitmen antar umat beragama untuk menjaga harmonisasi dan kondusifitas beragama. Gerakan ini dapat dimulai dengan cara membangun sebuah kesepakatan untuk tidak saling bertarung atas dasar agamanya masing-masing. Gerakan ini membutuhkan peranan insan akademis dan para pemikir keagamaan untuk bertugas memberikan penjelasan, pemahaman, dan kesadaran kepada masyarakat beragama tentang sejumlah kredo dan doktrin keagamaan. Gerakan ini berimplikasi kepada spektrum paradigma penilaian standar kebenaran sebuah agama. Artinya bahwa sebuah agama tidak bisa menghakimi kebenaran agama lain menggunakan standar kebenaran agamanya. Hanya penganut agama masing-masinglah yang berhak menilai kebenaran terhadap doktrin keagamaan (Martin, 2002, hal. 2).[6]

Betapa agama dan realitas sosial, terkadang justru menjadi sekat dan penghalang bagi manusia dalam mengembangkan kehidupannya. Timbulnya kecurigaan terhadap komunitas agama lain menyebabkan masing-masing penganut agama saling menutup diri. Kecenderungan dan kesediaan untuk saling belajar dalam dan dari kalangan berbagai agama, harus menjadi perhatian bersama bagi umat beragama. Sebab, kebangkitan kesadaran beragama bisa saja menimbulkan ketegangan dalam hubungan antar kelompok agama, terlebih dalam suatu masyarakat di mana berbagai agama hidup dan berkembang dalam keadaan berdampingan dan sekaligus bersaing. Sehingga, tidak mengherankan apabila masalah agama dan keberagamaan merupakan masalah “peka”. Kemampuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kerukunan hidup antar umat beragama merupakan salah satu tolak ukur kedewasaan dalam beragama (Efendi dalam Smith, 2001, hal. xii).[7]

Keempat, setelah tercapainya kondusifitas dan harmonisasi umat beragama, tahapan selanjutnya ialah kelangsungan akan kebutuhan manusia terhadap agama, mengharuskan terjadinya redefinisi, reformasi, dan reinterpretasi tentang agama dan relevansinya bagi kehidupan manusia. Problem kemanusiaan saat ini seperti,  kemiskinan, ketidakadilan dan kebodohan, secara nyata semakin menyempurnakan penderitaan, kelaparan dan ketertindasan. Sehingga agama tidak lagi harus berbicara sesuatu hal yang melangit, menjadi euforia bagi umat manusia untuk beranganangan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Markus dalam Baidhawy (2009, hal. vii) menjelaskan bahwa tantangan keberagamaan tidak lagi bersifat doktrinal, melainkan tantangan yang bersifat empirik berupa problem kemanusiaan. Seperti, konflik sosial, kekerasan, ketimpangan, kelaparan, dan ketidakadilan menjadi realitas yang harus dihadapi oleh manusia.[8]

Baca Juga :  6 Pengembangan Langkah Langkah Metode Ilmiah Terbaru

Kelima, agama dan realitas sosial harus senantiasa memberikan nafas pembebasan terhadap pemeluknya. Agama harus sanggup menterjemahkan dirinya dari bahasa langit, menuju bahasa bumi yang sesuai dengan realitas kehidupan manusia. Agama sebagai institusi dominan dalam diri manusia, harus mampu menjawab tantangan, dinamika dan problematika kehidupan manusia. Ketika manusia dalam keadaan dijajah, ketakutan, kebodohan, ketidakadilan, kemiskinan, pemiskinan, ketimpangan, dan kekerasan. Agama harus sanggup menumbuhkan kesadaran kritis dalam merespon dinamika problem kemanusiaan, baik melalui ijtihad sebagai metode intelektual dalam memahami pesan agama, ataupun secara langsung jika agama diharapkan perannya untuk menyelesaikan problematik masyarakat yang aktual (Engineer, 2009, hal. 48). Artinya agama harus selalu berani memberikan kriteria moral pada setiap keadaan, dengan menunjukan keadaan ideal sesuai dengan nilai-nilai kemanusian. Agama tidak hanya menuntut kepatuhan belaka. Akan tetapi juga pergulatan untuk mewujudkan tatanan yang lebih bertanggungjawab. Melalu perspektif inilah pesanpesan suci agama akan relevan dengan perwujudan keadilan sosial dan ekonomi.[9]

Keenam, terjadinya krisis lingkungan hidup dan kemanusiaan mengharuskan setiap tradisi keagamaan dan komunitas beragama untuk saling berkontribusi dan bekerja sama. Karena pada dasarnya, setiap agama memikul tanggung jawab global. Yaitu tanggung jawab untuk berbuat sesuatu terhadap krisis global dan kemanusiaan. Hal ini harus menjadi landasan bersama, titik berangkat bersama dalam wacana antar iman (Baidhawy, 2002, hal. 200). Spirit agama-agama tidak hanya akan mampu memberi kontribusi untuk mengatasi krisis global, bahkan juga memahami, belajar dari, dan saling memperkaya satu sama lain (Baidhawy, 2002, hal. 201). Oleh karena itu, dalam konteks seperti ini, agama-agama perlu bertemu dan mendiskusikan tentang landasan bersama tanggung jawab global dan tanggung jawab ini harus diatur dan didominasi oleh keragaman agama-agama. Sehingga, akan tercipta keteraturan sosial dalam setiap lintas sektoral, keagamaan dan global.[10]

Pada dasarnya, gerakan menuju agama cita, dalam kerangka ideal akan dapat dicapai ketika masyarakat beragama mampu dan mau menerapakan prinsipprinsip gerak di atas. Sehingga agama tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang ambivalen dan kontraproduktif. Justru agama akan menjadi pegangan terakhir umat manusia dalam menghadapi setiap tantangan perubahan sosial dan terjangan arus modernitas. Kerangka pemahaman inilah yang seharusnya menjadi landasan untuk berpacu gerak dalam adrenalin kehidupan.[11]

Baca juga : Sosiologi Agama

[1]Adang Kuswaya,”pdf Agama; Antara Cita dan Kritik”, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Volume 4 Nomor 1, 2016, hlm.164

[2]Adang Kuswaya,”pdf Agama; Antara Cita dan Kritik”, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Volume 4 Nomor 1, 2016, hlm. 164-165.

[3]ibid,hlm. 165.

[4]Adang Kuswaya,”pdf Agama; Antara Cita dan Kritik”, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Volume 4 Nomor 1, 2016, hlm. 165.

[5]Adang Kuswaya,”pdf Agama; Antara Cita dan Kritik”, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Volume 4 Nomor 1, 2016,hlm.166.

[6]Ibid.166.

[7]Adang Kuswaya,”pdf Agama; Antara Cita dan Kritik”, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Volume 4 Nomor 1, 2016,hlm.166.

[8]Ibid,166-167.

[9]Adang Kuswaya,”pdf Agama; Antara Cita dan Kritik”, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Volume 4 Nomor 1, 2016,hlm.167.

[10]Ibid.167.

[11]Ibid.167.

[1] Taufik Akbar,pdf “KEMISKINAN, PEREMPUAN DAN AGAMA”, UIN Yogyakarta, Volume 9,  Nomor 1, Juni  2015, hlm.145.

[2]Ibid, hlm.146

[3]Taufik Akbar,pdf “KEMISKINAN, PEREMPUAN DAN AGAMA”, UIN Yogyakarta, Volume 9,  Nomor 1, Juni  2015,hlm.147

[4]. Ibid, hlm. 149.

[5]Ibid.hlm. 150.