STKIP – STIT Muhammadiyah Lumajang

  • 4 min read
  • Nov 13, 2020
Logo STIT-TKIP Muhammadiyah Lumajang

Specialdays.id – Halo sobat Specialdays pada kali ini kita akan mebahas tentang kampus yang berada di Kabupaten Lumajang. Provinsi Jawa timur, Indonesia pada pembahasan kali ini akan sedikit berbeda inilah STIT – STKIP Muhammadiyah Lumajang.

Kenapa? Kita membahasnya berdasarkan tulisan bersumber dari mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof.Dr. Imam Suprayogo.

Ahad kemarin, saya diundang oleh STKIP dan STIT Muhammadiyah Lumajang untuk mengisi ceramah ilmiah sehubungan dengan acara wisuda sarjana.

Saya datangi undangan itu, sambil bernostagia, bertemu teman-teman lama, perintis perguruan tinggi tersebut. Dulu, pada awalnya perguruan Tinggi Muhammadiyah Lumajang, sebelum memiliki status sendiri, menginduk ke Universitas Muhammadiyah Malang.

Saya ketika itu menjabat sebagai Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang, sehingga para pimpinan kampus Muhammadiyah Lumajang seringkali ketemu. Acara itu tidak dilaksanakan di kampus, tetapi menyewa gedung Sujono, bersebelahan dengan alun-alun Lumajang.

Saya menanyakan, mengapa tidak diselenggarakan di kampus. Dijawab oleh ketua dewan pembina perguruan tinggi itu, menyewa lebih mudah dan murah. Rupanya perguruan tinggi Muhammadiyah benar-benar ingin melaksanakan manajemen modern yang berciri rasional, obyektif, dan efisien.

Namun saya ingatkan bahwa sebenarnya, sekalipun mengklaim diri sebagai modernis, Muhammadiyah seringkali justru memanage pendidikannya tidak secara modern. Terkait dengan pemilihan tempat wisuda, saya mengingatkan bahwa, menurut hemat saya ada kelemahan jika dilaksanakan di luar kampus.

Pertama, jika acara wisuda dilaksanakan di gedung seperti ini, para tamu termasuk saya, tidak akan tahu keindahan kampus STIT dan STKIP Muhammadiyah.

Kedua, warga kampus tidak mendapatkan kebanggaan atas kampusnya. Biasanya para tamu yang datang memberikan apresiasi terhadap karya-karya besar yang selama ini telah dikerjakan oleh Muhammadiyah Lumajang.

Ketiga, Kehilangan kesempatan untuk mempromosikan kampusnya sendiri. Rupanya, sementara pengurus masih menyukai menyewa gedung seperti itu.

Selanjutnya, mendengar pandangan saya, bahwa pendidikan Muhammadiyah tidak dikelola secara modern tersebut, sementara pengurus Muhammadiyah yang menemui saya agak memprotes.

Saya diminta menunjukkan di mana nuansa tidak modernnya itu. Saya tunjukkan, beberapa di antara bukti-bukti itu. Misalnya, dulu ketika STKIP dan STIT Muhammadiyah Lumajang masih menginduk ke Universitas Muhammadiyah Malang, pengurusnya setiap membawa uang untuk membayar biaya herregistrasi, ujian dan lain-lain.

Baca Juga :  Institut Pertanian Bogor (IPB), 1 September 1963

meletakkan uangnya di dalam tas saja takut hilang, sehingga uang itu diletakkan di bawah sepatu. Maka, uangnya itu menjadi tampah lusuh. Saya katakana apa ini cara-cara modern, tentu tidak. Contoh lain, terkait dengan manajemennya. Saya katakan, dulu – sekarang tentu tidak, managemen yang diterapkan persis seperti manajemen tukang cukur.

Kampusnya dibuka sendiri, dipimpin sendiri, uangnya dikumpulkan sendiri, dicatat sendiri, disimpan sendiri, mahasiswanya diajar sendiri, diuji sendiri dan semuanya dikerjakan sendiri. Anehnya, cara yang tidak terlalu modern ini justru tetap kuat, hingga masih hidup dan berkembang sampai sekarang.

Apa yang saya katakan, tentu diiyakan oleh para pengurusnya. Karena memang seperti itulah cara pengelolaan yang sebenarnya. Umpama sejak awal, kampus itu dimanage secara modern, maka hambatan pokoknya adalah tidak tersedia cukup dana untuk membiayai.

Saya tahu kampus ini dirintis dan dikembangkan dengan modal semangat, tekat, dan pengorbanan para pengurusnya. Akhirnya, atas penjelasan itu, para pengurus tersenyum mengiyakan. Saya yakin banyak kampus-kampus Muhammadiyah yang sekarang menjadi besar, pada awalnya dijalankan seperti itu.

Para pengelolanya dengan semangat tinggi, bekerja keras, tanpa sedikitpun memperhatikan akan mendapatkan imbalan apapun, mereka memberikan pengabdiannya secara ikhlas.

Untuk memperkukuh pendapat saya itu, Pak Kasmiran, Ketua Dewan Pembinanya, menjelaskan bahwa STIT dan STKIP Muhammadiyah Lumajang, dulu ketika akan dievaluasi oleh Kopertis Wil. VII untuk mendapatkan ijin pendirian atau status yang ketika itu belum memiliki apa-apa, dibantu oleh beberapa tokoh Lumajang.

Di antaranya, Pak Masydar, orang tua dari Bupati Lumajang sekarang, secara mendadak memberikan beberapa fasilitas kantor, dengan alas an agar perguruan tinggi Muhammadiyah Lumajang tampak pantas.

Baca Juga :  Info Lengkap Pendaftaran Beasiswa Kuliah S1 Seni di Korea

Kunjungan ke STKIP dan STIT Muhammadiyah Lupamajang, sekalipun tidak sempat melihat kampusnya, saya mendapatkan kegembiraan yang mendalam. Saya melihat orang-orang yang dulu berjuang, siang malam, merintis dan membesarkan kampus Muhammadiyah, dengan mengorbankan apa saja yang dimiliki, ternyata masih lengkap.

Saya masih ketemu Pak Kasmiran pemrakarsa berdirinya perguruan tinggi ini sejak awal. Prof.Dr. Sudarmadji yang dulu sebagai sekretaris Pak Kasmiran, juga hadir pada acara itu, sekalipun sekarang dia sudah menjadi Guru Besar di Universitas Jember.

KH. Zainuddin, MA, sebagai ketua dua sekolah tinggi ini, masih bersemangat. Kedatangan saya tersebut juga mengingatkan para pimpinan STKIP dan STIT Muhammadiyah Lumajang terhadap pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang pada akhir tahun 1970 an dan awal tahun 1980 an.

Beberapa orang pengurus menanyakan Prof. Moh. Kasiram, M.Sc, Pak Drs. Tadjab Abdullah, Pak Slamet As Yusuf, Pak Drs. Moh. Anwar, Pak Drs. Djazuli dan lain-lain. Saya kabarkan bahwa sebagian perintis Universitas Muhammadiyah Malang sudah wafat, seperti Pak Slamet As Yusuf, Pak Tadjab dan juga Pak Anwar, Pak Sukiyanto.

Sedangkan yang lain sudah memasuki masa pension dari status PNS nya. Pak Kasmiran, ketua Badan Pembina kampus itu, juga mengingat-ingat tentang betapa besar jasa dan pengabdian Pak Soekiyanto terhadap Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagai Pembantu Rektor II.

Pak Soekiyanto dianggap olehnya sangat gigih, siang malam tanpa merasa lelah, memimpin pembangunan fisik kampus Universitas Muhammadiyah Malang.

Tidak sebatas itu, dia tahu, untuk mencukupi kebutuhan dana yang diperlukan, tatkala harus pinjam dari Bank, Pak Sukiyanto rela menjadikan seluruh kekayaannya sebagai jaminannya.

Apa yang dikatakan oleh Pak Kasmiran, saya benarkan, memang kenyataannya seperti itu. Tokoh Muhammadiyah, Drs.H.Soekiyanto, yang namanya tidak terlalu popular itu, sungguh memiliki jasa besar dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah di Malang.

Baca Juga :  1+ Kampus Hukum STIH Jendral Sudirman Lumajang

Saya kira tidak saja Pak Kasmiran yang mengenalnya, tetapi seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah Malang mengetahuinya. Bahwa yang memimpin pembangunan fisik kampus UMM mulai kampus I, II dan III adalah Pak Soekiyanto, teman dekat Ketua Badan Pembina STKIP dan STIT Muhammadiyah Lumajang ini.

Selanjutnya saya lihat, STIT dan STKIP Muhammadiyah semakin kokoh. Pada saat ini, para pengelolanya, selain para tokoh lama sudah disambung oleh para penerusnya tokoh-tokoh baru yang berusia muda yang jumlahnya cukup banyak.

Pak Kasmiran dan juga Prof. Sudarmadji membanggakan terhadap mereka yang masih muda sebagai pengurusnya. Sehingga, kampus ini benar-benar disangga baik oleh para perintisnya yang mengetahui sejarah, pemikiran, dan semangat awal berdirinya dan generasi penerusnya.

Dalam kunjungan itu, saya melihat dan merasakan hubungan di antara para pengurus saling membutuhkan dan memperkukuh. Persoalan ini mungkin dianggap kecil, dan bagi sementara orang, memandang Perguruan Tinggi Muhammadiyah, sebagai institusi modern tidak selayaknya mengambil kebijakan seperti itu.

Saya melihatnya agak berbeda. Bahwa pada kenyataannya, tidak semua orang Muhammadiyah memiliki semangat, etos, dan dedikasi yang sama. Jumlah pimpinan yang menyandang kelebihan seperti itu amat terbatas.

Atas dasar kenyataan itu, jika para perintis yang telah teruji kemudian ditinggalkan begitu saja, maka akan terjadi disorientasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Pertimbangan lainnya, bukankah Muhammadiyah dibangun dan dikembangkan atas semangat kemandirian, kebersamaan, perjuangan, dan pengorbanan, sehingga semangat itu harus dijaga keutuhannya.

Berbicara tentang semangat dan menghargai jasa orang, saya teringat apa yang saya lihat tradisi di Iran. Orang Iran sangat menghargai siapapun yang telah berjasa.

Jangankan terhadap mereka yang masih hidup, sedangkan kepada yang sudah mati pun, selalu diingat jasanya dan diziarahi kuburnya pada setiap saat.

Oleh karena itu, bagi saya, apa yang terjadi di STIT dan STKIP Muhammadiyah Lumajang, justru lebih indah, lebih menampakkan bermuhammadiyahnya, tampak antar generasi, mereka bersatu dan rukun.