Hari Radio Republik Indonesia, 11 September 1945

  • 2 min read
  • Okt 20, 2020

Sejarah Hari Radio Republik Indonesia (RRI) – Tahukah Anda bahwa hari ini adalah hari bersejarah bagi Indonesia? Sejarah hari ini, 11 September adalah Hari Radio Republik Indonesia (RRI) atau Hari Radio Nasional. RRI didirikan pada tanggal 11 September 1945 dengan Slogan “Sekali di Udara, Tetap di Udara“. Yuk simak sejarah dan perayaan Radio Republik Indonesia (RRI)!

Sejarah Radio Indonesia

Kita tahu bahwa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Pada saat itu, masyarakat masih buta akan informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah hari kemerdekaan. Sebelum hari kemerdekaan, rakyat Indonesia hanya mengetahui siaran berita dari radio Hoso Kyosu milik jepang, tetapi pada tanggal 19 Agustus 1945 dihentikan. Apalagi siaran radio luar negeri mengabarkan bahwa tentara Inggris (atas nama sekutu) berencana untuk menduduki daerah Jawa dan Sumatera.

Menanggapi hal tersebut, orang-orang yang aktif di radio pada masa jajahan Jepang menyadari bahwa pemerintah Indonesia harus memiliki radio sebagai alat berkomunikasi dan menyebarkan berita kepada seluruh rakyat di nusantara. Mereka yang yang aktif di radio Haso Kyoku adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soemarmadi, Soetarji Hardjolukita, Sudomomarto, Harto dan Maladi.

Pada tanggal 11 September 1945, akhirnya 8 orang yang aktif di radio Hosu Kyoku mengadakan rapat pertemuan bersama pemerintah di Jakarta. Mereka berkumpul di gedung Raad Van Indje Pejambon dan bertemu sektetaris negara.

Saat itu, Abdulrahman (ketua delegasi) menguraikan maksud dan tujuan dari pertemuan tersebut. Salah satunya yaitu mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi dengan rakyat mengingat tentara sekutu akan mendarat di Jakarta pada akhir bulan September. Kemudian radio dipilih sebagai alat komunikasi karena lebih cepat dan tidak mudah putus saat pertempuran.

Baca Juga :  Peristiwa Penting Pada 25 April dalam Sejarah Dunia

Selain itu, pada rapat tersebut juga diuraikan terkait modal operasional pendirian radio Indonesia. Delegasi menyarankan agar pemerintah menuntut Jepang supaya bisa menggunakan studio dan pemancar-pemancar radio Hoso Kyoku. Namun, sekretaris negara dan beberapa menteri keberatan karena alat-alat tersebut sudah terdaftar sebagai barang inventaris sekutu.

Para delegasi radio pun mengambil sikap untuk tetap melanjutkan rencana mereka dengan mempertimbangkan segala risiko, bahkan peperangan.

Di akhir rapat pertemuan, Abdulrahman Saleh membuat kesimpulan antara lain:

  1. Pembentukan Persatuan RRI (Radio Republik Indonesia) yang akan meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa
  2. Mempersembahkan RRI kepada Presiden dan Pemerintah sebagai alat komunikasi dengan rakyat Indonesia
  3. Mengimbau supaya semua hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui Abdulrachman Saleh

Pemerintah akhirnya menyanggupi dan siap membantu RII meski dalam beberapa hal tidak sependapat.

Pada pukul 24.00, 11 September 1945, delegasi dari 8 stasion radio di Jawa mengadakan rapat dan akhirnya didirikan Radio Republik Indonesia (RRI) dan Abdulrahman ditunjuk sebagai pemimpin RRI.

Perayaan Hari Radio Indonesia

Tepat 2019, Radio Republik Indonesia sudah genap berusia 74 tahun. RRI berdiri dan dioperasikan untuk kepentingan rakyat Indonesia dan sekali di udara, tetap di udara. Radio sebagai media informasi untuk didengar yang berkembang mengikuti perkembangan zaman dengan sekian inovasi yang dilakukan.

Pada hari ulang tahun RRI ini, kita dapat turut serta memberikan penyadaran terhadap diri sendiri dan masyarakat akan pentingnya informasi, memahami informasi dan mampu menilai isi informasi.

“Sekali di Udara, Tetap di Udara”

Selamat Hari Radio Republik Indonesia, 11 September 1945!