Sejarah : Hari Kemerdekaan Malaysia

  • 4 min read
  • Sep 12, 2020

Specialdays.id – Halo sahabat spesial udah pada tidak nih tentang hari kemerdekaan malaysia, kalau masih belum yuk kita belajar bareng tentang perjuangan kaum nasionalis di Semenanjung Malaya.

Seperti di Indonesia, yang juga dipengaruhi dengan berakhirnya penjajahan Jepang pada 1945, berdasarkan catatan Encyclopedia Britannica. Malaya dan Borneo adalah dua daerah penting karena banyak menyediakan sumber daya alam bagi Jepang.

A. Invasi Jepang ke Malaysia

Pasukan Negeri Matahari Terbit (sebutan dari Negara Jepang) memulai invasi wilayah ke Semenanjung Malaya pada tahun 1941 dan mencapai kejayaan pada 1942. Setelah tiga tahun berkuasa, politik dan ekonomi Jepang lumpuh bukan hanya karena disebabkan oleh bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, tapi juga teejadinya ketidakstabilan kawasan Malaya. Kelompok komunis yang rata-rata keturunan Cina melakukan perlawanan secara gerilya di hutan dan melakukan pemberontakan di Borneo Utara.

Di sisi lain, konflik antar-etnis juga kembali memanas. Meskipun begitu, semua rakyat penghuni semenanjung Malaya juga merasakan kegembiraan yang sama atas kekalahan Jepang.
Sebelum diambil alih Jepang, Sawarak dan Borneo Utara merupakan wilayah protektorat (kawasan yang dijaga) Inggris. Ketika Perang Dunia II berakhir di Pasifik, Inggris dstang kembali mengontrol kedua wilayah tersebut.

Saat itu Sarawak menghadapi penentangan dari orang-orang Melayu yang tak terima karena tetap dikontrol oleh Inggris. Disisi lain, didirikannya koloni Inggris di Borneo Utara menyebabkan perpindahan ibukota dari Sandakan ke Jesselton (sekarang Kota Kinibalu). Demi menjaga kestabilan kawasan, Inggris membentuk Uni Malaya (Malaya Union) yang brtugas untuk mengubah negara-negara Melayu plus Penang dan Malaka menjadi satu koloni. Yang mana visinya, menurut Inggris, yaitu persiapan kemerdekaan kawasan.

Ada pengecualian untuk Singapura dan Borneo Utara sebab secara teritori wilayah dan pertimbangan lain, yang mana kedua wilayah ini dianggap sulit bersatu. Kebijakan ini mendapat pertentangan kuat dari golongan nasionalis Melayu sebab Uni Malaya dianggap sebagai gerakan pelemahan penguasaan Melayu dan merupakan pemberian kewarganegaraan kepada etnis Cina, India, dan kaum minoritas yang lain.

Baca Juga : Biografi Ki Hajar Dewantara

Sebenarnya Inggris bersikap netral sebab orang-orang Cina dan India juga sangat loyal pada Inggris selama PD I dan II. Namun, sikap keras kaum nasionalis Melayu mampu mengubah sikap para sultan kerajaan di Semenanjung Melayu dari yang tadinya mendukung Inggris, malah menjadi oposisi untuk menentang inggris.

Baca Juga :  Sejarah Hari Kemerdekaan Siprus, 16 Agustus 1960
Foto : Tunku Abdul Rahman

Menginjak tahun 1946, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) yang didirikan oleh Dato Onn bin Jaafar, sebagai Kepala Menteri Johor, agar perjuangan memerdekakan Malaya makin terorganisir. UMNO melakukan serangkaian demonstrasi hingga aksi boikot yang membuat Inggris pusing. Negosiasi yang terjadi antara UMNO dan Inggris pada 1948 menghasilkan Federasi Malaya, yaitu konsep penyatuan Semenanjung Malaya dengan adanya jaminan hak khusus bagi kaum Melayu dan juga jaminan posisi para sultan tetap terjaga.

B. Perlawanan Federasi Malaysia

Anggota Federasi Malaysia terdiri dari gabungan sembilan kerajaan Melayu ditambah dua provinsi, yakni Johor, Kedah, Kelantan, Malaka, Negeri Sembilan, Pahang, Penang, Perak, Perlis, Selangor, dan Terengu. Pemerintah federasi dipimpin oleh Perdana Menteri, dan kawasan ibu kotanya ditetapkan di Kuala Lumpur. Satu masalah sudah selesai, namun masalah lain juga membuat masalah makin rumit. Pasukan kelompok komunis yang saat itu digerakkan Partai Komunis Malaysia (MCP), yang dibentuk pada 1930 menjadi pucuk tombak perjuangan melawan Jepang, mereka pindah ke tengah hutan sejak 1948 dan terus melakukan perlawanan gerilya untuk mengusir para penjajah baru, yakni Pemerintah Inggris.

Perlawanan ini berlangsung selama 12 tahun dan dikenal dengan istilah periode Darurat Malaya (Malayan Emergency). Sebagai upaya untuk memadamkan perlawanan MCP, Inggris mengisolasi MCP dari basis pendukungnya. Caranya dengan menggunakan orang-orang keturunan Cina diberikan hak konsesi ekonomi dan politik, serta untuk membangun kembali pemukiman liar orang-orang Cina menjadi “Desa Baru” (New Villages).

Strategi ini bisa dibilang efektif, termasuk juga dengan mobilisasi orang-orang Melayu yang dipersenjatai untuk melawan MCP di medan perang. Pada 1949, kampanye MCP mulai kehilangan momentumnya dan jumlah anggota baru yang direkrut partai mulai menurun tajam. Meskipun MCP berhasil membunuh Komisaris Tinggi Inggris, Sir Henry Gurney pada Oktober 1951.

Baca Juga :  Hari Kemerdekaan Republik Afrika Tengah, 13 Agustus 1960
Foto : Malayan Emergency

Strategi yang digunakan Inggris yaitu mengasingkan orang-orang peranakan Cina moderat dari pengaruh MCP. Sehingha lambat laun kekuatan MCP mengecil. Akhirnya pada 1960, mereka sudah kehilangan hampir seluruh pasukannya dan pemerintah Malaya mengumumkan berakhirnya masa Darurat Malaya.

Baca Juga : 11 Quotes Hari Kartini

Adanya janji kemerdekaan mendorong Pemerintah Inggris memulai mengadakan perundingan dengan berbagai pemimpin kelompok Federasi Malaya. Di antaranya ada UMNO sebagai perwakilan dengan pendukung terbanyak dan Asosiasi Cina Malaya (MCA) yang dibentuk pada tahun 1949 oleh pengusaha keturunan Cina. Saat itu, UMNO dipimpin oleh tokoh moderat dan kharismatik yaitu Tun Abdul Rahman, bersama MCA dan Malayan Indian Congress kemudian berkoalisi dan memenangkan pemilihan legislatif nasional pada tahun 1955. Hanya satu kursi saja yang tak mereka menangkan. Ketiga kelompok ini membentuk koalisi penguasa permanen yang pada mulanya dinamakan Partai Aliansi dan kemudian bernama Barisan Nasional (BN).

C. Terbentuknya Barisan Nasional

Barisan Nasional (BN) mampu menyatukan partai berbasis etnis dengan ragam ideologi mulai dari moderat-konservatif dengan UMNO sebagai kekuatan utamanya. Sepanjang 1955-1956, UMNO, MCA, dan Inggris membuat kesepakatan secara konstitusional tentang prinsip kewarganegaraan yang bersifat setara untuk semua ras dan etnis. Sebagai gantinya, MCA harus setuju kepala Federasi Malaya akan ditarik dari jajaran kesultanan Melayu, bahasa resminya adalah bahasa Melayu, dan pendidikan Melayu, serta pembangunan ekonomi akan dipromosikan sekaligus memperoleh disubsidi dari pemerintah.

Namnun, dampak dari kebijakan ini adalah Federasi Malaya akan dijalankan oleh elite Melayu dan orang Melayu akan terus mendominasi bagian kedinasan sipil, angkatan bersenjata, hingga kepolisian. Meskipun demikian, orang-orang Cina dan India akan memiliki perwakilan yang proporsional di kabinet dan parlemen sehingga bisa menjalankan negara bagian di mana etnis mereka terhitung mayoritas dan secara ekonomi juga terjamin.

Baca Juga :  Sejarah Peringatan Hari Media Sosial 10 Juni

Selain mengurus perkara birokratis, negosiasi untuk kemerdekaan Federasi Malaya terus dijalankan UMNO dan koalisinya dengan pemerintah Inggris. Ditambah dengan pertimbangan bahwa pemberontakan orang-orang komunis di pertengahan 1950-an juga sudah mulai mereda dan mereka bukan lagi dianggap sebagai ancaman besar bagi stabilitas negara baru.

Baca Juga : 25 Quotes Cinta dalam Diam

Hasil kesepakatan dapat dicapai pada 8 Februari 1956 bagi Federasi Malaya untuk merdeka dari Kerajaan Inggris. Namun, dengan alasan logistik dan administrasi, proklamasi kemerdekaan baru bisa dilaksanakan tahun depan, yakni pada tanggal 31 Agustus 1957 di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur. Kemerdekaan Federasi Malaysia jadi tonggak penting bagi pembentukan Federasi Malaysia pada tanggal 16 September 1963, yang kini diperingati sebagai Hari Malaysia. Disinilah tantangan sebagai negara baru muncul dari banyak pihak, termasuk pertentangan dari Indonesia di bawah komando Presiden Sukarno.

Itulah sejarah Hari Kemerdekaan Malaysia jangan lupa tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar di bawah ya…

Specialdays.id
Kunjungi Web Edukatif dan Inspiratif

Inilah Sejarah Hari Kemerdekaan Malaysia