Sejarah Peringatan 5 Hari Besar Agama Buddha

  • 4 min read
  • Des 27, 2020

Specialdays.id – Halo sobat Spesial ngebahas tentang hari besar agama buddha. Kira – kira kamu udah tau belum apa saja sih hari besar agama buddha? Nah, berikut ini akan specialdays paparkan tentang Sejarah peringatan 5 hari besar agama buddha. Yuk ikuti.

1. Peringatan Hari Raya Waisak

Peringatan hari raya waisak merupakan hari suci agama Buddha. Hari raya Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali “Wesakha”, yang pada gilirannya juga terkait dengan “Waishakha” dari bahasa Sanskerta. Di beberapa tempat disebut juga sebagai “hari Buddha”.

Baca Juga : Peringatan Hari Raya Agama Islam beserta Sejarahnya

Perayaan Hari raya waisak dirayakan dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu:

1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M.,
2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodh Gaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M.
3. Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M.

Tiga peristiwa ini dinamakan “Trisuci Waisak”. Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950. Perayaan ini dilakukan pada purnama pertama di bulan Mei. Waisak sendiri adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan India Kuno.

Perayaan Hari Waisak di Indonesia mengikuti keputusan WFB. Secara tradisional dipusatkan secara nasional di komplek Candi Borobudur, desa Borobudur, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah. Rangkaian perayaan Waisak nasional secara pokok yaitu :

Baca Juga :  Sejarah Peringatan Hari Media Sosial 10 Juni

1. Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.
2. Ritual “Pindapatta”, suatu ritual pemberian dana makanan kepada para bhikkhu/biksu oleh masyarakat (umat) untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan kebajikan.
3. Samadhi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang hari.

Selain tiga upacara pokok tadi dilakukan pula pradaksina, pawai, serta acara kesenian.

2. Peringatan Hari Raya Maghapuja

Peringatan Hari Raya Maghapuja merupakan salah satu hari raya terpenting bagi para penganut agama Buddha. Hari raya ini dirayakan pada saat bulan purnama di tiap bulan ketiga kalender Buddha. Hari raya ini dirayakan untuk mengenang suatu peristiwa ketika sang Buddha bertemu dengan 1250 murid pertamanya dan karena untuk mengenang peristiwa tersebut hari raya ini juga disebut sebagai hari raya Sangha. Pada hari ini, umat Buddha biasanya pergi ke vihara untuk berbuat kebajikan seperti berderma, bermeditasi, dan mendengarkan dhamma.

Perayaan hari Māgha Pūjā didasari oleh kisah mengenai suatu peristiwa ketika sang Buddha berada dalam sebuah pertemuan dengan 1250 murid yang telah ia tahbiskan secara langsung. Menurut cerita, pertemuan ini terjadi di Rajagaha dan terjadi tepat sepuluh bulan setelah sang Buddha menggapai pencerahan. Selain itu, diceritakan bahwa pertemuan ini terjadi pada saat siang menjelang sore hari dan pertemuan ini memiliki empat ciri (cāturaṅgasannipāta), yakni:

1. Sebanyak 1250 murid menghadiri pertemuan tersebut tanpa adanya perintah sama sekali.
2. Semua murid yang menghadiri pertemuan tersebut adalah arhat.
3. Semua murid yang menghadiri pertemuan tersebut sudah ditahbiskan secara langsung oleh sang Buddha.
4. Pertemuan itu terjadi saat hari bulan purnama di bulan Māgha.

Baca Juga :  Materi Pergerakan Nasional Sejarah Indonesia Kelas 10

3. Peringatan Hari Raya Asdha (Asadha Puja)

Peringatan Hari Raya Asdha merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Buddha terutama aliran Theravada yang biasanya berlangsung di bulan Juli, pada hari bulan purnama di bulan ke-8 penanggalan lunar. Perayaan ini memperingati penyampaian khotbah pertama sang Buddha Gautama di taman rusa Isipatana di Benares dan peristiwa tersebut dijadikan penanda bahwa sangha telah didirikan di dunia.

Baca Juga : Peringatan Hari Besar Agama Katolik dan Sejarahnya

Di Thailand, Asadha Puja merupakan hari libur pemerintah dan pada hari ini minuman beralkohol dilarang untuk diperjual-belikan. Kata Asadha sendiri merupakan kata yang berasal dari nama bulan kedelapan pada penanggalan Buddhis. lmao Di Indonesia sendiri, perayaan hari Asadha Puja biasanya berpusat di Candi Mendut yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Candi Borobudur.

4. Peringatan Hari Raya Kathina

Peeingatan hari raya Kathina merupakan salah satu hari raya agama Buddha yang biasanya dirayakan pada akhir masa Vassa. Hari raya Kathina ini merupakan penanda bahwa masa Vassa telah berakhir dan umat Buddha memasuki masa Kathina. Perayaan Kathina merupakan waktu bagi para umat awam untuk berderma atau berdana kepada para bhikkhu sebagai tanda rasa syukur mereka. Pada perayaan Kathina, biasanya umat awam akan mengunjungi wihara dengan membawa donasi atau sumbangan berupa jubah atau pakaian baru bagi para bhikkhu.

Hari raya kathina merupakan sebuah kata dalam bahasa Pali yang merujuk kepada bingkai kayu yang digunakan untuk mengukur panjang serta lebar potongan jubah atau pakaian para bhikkhu. Berdasarkan kisah legenda, dahulu terdapat tiga puluh orang bhikkhu yang sedang berada dalam perjalanan untuk bertemu dan menghabiskan masa Vassa bersama sang Buddha.

Baca Juga :  Hari Kopi di Kosta Rika, 12 September 1798

Namun, hujan sudah terlebih dahulu turun sebelum mereka sampai di tujuan dan mereka menghentikan perjalanan mereka di Saketa. Hal tersebut disebabkan oleh aturan sang Buddha mengenai masa Vassa di mana para bhikkhu tidak boleh melakukan perjalanan karena ditakutkan mereka akan melukai tetumbuhan dan binatang secara tidak sengaja selama perjalanan mereka.

Para bhikkhu tersebut pun berhasil melalui masa Vassa dengan mengamalkan dhamma dan tidak saling berselisih. Oleh karena keberhasilan mereka, sang Buddha mengganjarkan para bhikkhu tersebut dengan menunjukkan dan mengajarkan suatu cara untuk berbagi dan bermurah hati, yaitu dengan memberikan beberapa lembar kain yang sang Buddha dapatkan dari umat awam kepada tiga puluh bhikkhu tersebut.

5. Peringatan Hari Raya Ulambana

Peringatan Hari Raya Ulambana merupakan salah satu hari suci umat Buddhis yang diselenggarakan pada tanggal pertama hingga ke-15 penanggalan Imlek. Pada hari tersebut, para Bhikkhu Sangha sedang menjalankan masa Vassa (retret selama Musim Hujan berlangsung). Setelah menjalankan masa tersebut, banyak bhikkhu yang mengalami peningkatan dalam kehidupan spritualnya sehingga menjadi “lahan teramat subur” untuk menanam kebajikan.

Para umat Buddha yang memberikan persembahan kepada mereka akan memperoleh karma baik lebih besar daripada biasanya. Umat juga bisa melimpahkan jasa kebajikan yang diperoleh dari persembahan tersebut untuk roh leluhur mereka serta makhluk-makhluk yang menderita di alam peta (alam hantu kelaparan).

Baca Juga : Hari Besar Agama Hindu dan Sejarahnya

Bagi umat Buddha, ritual Ulambana merupakan hari dimana semua anak-anak mempraktikkan rasa hormat dan kasih sayang kepada orangtuanya yang sekarang (dalam kehidupan yang sekarang ini), orang tua pada masa lampau (kehidupan sebelum tumimbal lahir yang sekarang), dan masa depan.

Itu tadi sob, mengenai Hari Besar Agama Buddha. So buat kamu pemeluk agama budhha semoga makin giat ibadahnya ya. Jangan lupa kirim kritik dan komentar kamu di bawah ini ya!